Sabtu, 28 Januari 2012

Prempuan-perempuan Perkasa


Perempuan diciptakan dari tulang rusuk pria. Layaknya tulang rusuk, selain halus dan rapuh sesungguhnya perempuan juga keras dan kuat. Perempuan adalah sosk individu yang mampu melindungi dan menjaga siapapun. Sebagaimana sifat tulang yang keras maka perempuan umumnya lebih gigih untuk bertahan hidup dibandingkan laki-laki terutama jika menyangkut kelangsungan hidup anak-anak mereka.

Perempuan-perempuan berikut ini merupakan cerminan dari perempuan-perempuan perkasa yang tidak serta merta menyerah menghadapi kerasnya kehidupan. Demi masa depan buah hati mereka, perempuan-perempuan ini rela menjadi tulang punggung keluarga dan menjalani profesi yang “tidak biasa”. Profesi yang umunya didominasi oleh kaum laki-laki. Mereka rela berada di jalanan dan bekerja sebagai sopir angkot, tukang becak, tukang ojek, sopir taksi dan bahkan sopir truk dengan segala risiko yang mungkin mengancam mereka di jalanan.

Seperti apa yang dilakukan oleh Jannette Husainy, atau akrab disapa Janet yang berprofesi sebagai sopir angkot. Selama 16 tahun, ia menjalani profesi yang tidak biasa bagi kaum perempuan ini. Berawal ketika ayahnya meninggal dunia dan Janet sebagai anak pertama harus mengambil tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Kemudian saat ia menikah dan berpisah dari suaminya, Janet tidak pernah meninggalkan profesinya ini. Semua dilakukan demi kelangsungan hidup 7 orang anaknya. Sebagai sopir angkot tak jarang Janet tidak pulang ke rumah jika penghasilan yang didapatnya jauh dari cukup. Janet bahkan pernah tidur di dalam angkotnya. Bagi Janet yang terpenting adalah ia pulang membawa uang bagi anak-anaknya.

Selain Janet, ada juga Kastini dari Tuban, Jawa Timur  yang berprofesi sebagai tukang becak. Perempuan bertubuh kurus ini memilih untuk menjadi tukang becak demi membantu perekonomian keluarganya. Suaminya sendiri berprofesi sebagai sopir truk dan kernet. Namun perkerjaan tersebut tidak tetap karena bergantung kepada ada tidaknya orang yang menggunakan jasanya mengemudikan truk. Kastini merupakan satu-satunya tukang becak perempuan diantara dominasi tukang becak laki-laki lainnya. Namun Kastini tidak pernah merasa malu menjalani profesi ini. Dari hasil menarik becak, Kastini dapat menyekolahkan anak-anaknya. Sebagai seorang ibu dan juga istri, ia tidak  meninggalkan kewajibannya mengurus rumah tangga.

Di Tanah Abang, Jakarta Pusat, ada perempuan lainnya bernama Dewi yang berprofesi sebagai tukang ojek. Tahun 2005, Dewi memutuskan untuk menjadi tukang ojek karena ia tidak tahu lagi mau bekerja apa pasca perceraiannya dengan suaminya yang selama menikah tidak pernah memberikan nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya. Setelah bercerai,  ia sempat frustasi mengingat keempat anaknya yang menjadi tanggungan hidupnya. Namun ia mengaku mendapat ilham dan bangkit dari keterpurukannya. Saat pertama menjadi tukang ojek, wanita berusia 37 tahun ini sempat merasa malu namun akhirnya ia sadar karena yang terpenting adalah ia mendapatkan rezeki yang halal. Dewi pernah mencoba profesi lainnya yaitu berjualan makanan namun usahanya tidak pernah maju dan merugi karena lebih banyak dikonsumsi sendiri. Sekarang ini Dewi tinggal menumpang hidup dengan kedua orang tuanya.

Perempuan yang satu ini, menjalani profesinya sebagai sopir taksi karena keadaan. Demi kelangsungan hidup, Rita Deswati memanfaatkan keahlian yang dimilikinya yaitu menyetir untuk menopang hidup keluarganya setelah ditinggalkan suaminya. Rita sendiri adalah seorang sarjana namun karena setelah lulus langsung menikah, ia tidak pernah menggunakan ijazah yang diperolehnya untuk bekerja. Saat itu, suaminya melarang dirinya untuk bekerja dan menyuruhnya mengurus rumah tangga. Namun Rita tidak mau terpuruk meratapi kepergian suaminya, ia pun bangkit. Sebagai seorang sopir taksi perempuan, Rita mengaku tidak mengalami banyak hambatan. Baginya profesi yang dijalaninya sekarang adalah sumber kehidupan Rita bersama ketiga anaknya.

Di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau seorang perempuan bernama Sularmi juga menjalani profesi yang tidak biasa. Perempuan yang baru beberapa bulan menjanda ini memilih untuk meneruskan profesi suaminya sebagai sopir truk di pelabuhan. Sularmi tidak pernah berpikir sebelumnya akan menjalani kehidupan yang keras ini tanpa suaminya. Namun, takdir berkata lain, ia harus menjalani profesi ganda sebagai ibu rumah tangga dan mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup dirinya dan ketiga anaknya.
Perempuan-perempuan diatas adalah wujud perempuan-perempuan perkasa yang tidak menyerah kepada nasib. Meskipun mereka harus menjalani kerasnya kehidupan namun mereka terus menapak masa depan dengan optimis demi buah hati mereka.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar